http://komodo.moral-politik.com/2014/01/ini-dia-kontroversi-dihentikannya-acara-hitam-putih/


 

 

komodo.moral-politik.com : Mengejudkan, acara yang boleh dibilang cukup banyak diminati penonton Indonesia jika dibandingkan dengan acara lainnya, tiba-tiba dinyatakan ditutup.

Lepas dari itu, bisa dimaklumi jika pemilik atau manajemennya punya perhitungan-perhitungan tertentu, terutama ingin menggantinya dengan acara yang lebih heboh sehingga lebih bisa mendongkrak rating televisi yang menyiarkan acara tersebut.

Melansir Kompas.com, para penggemar acara Hitam Putih, yang ditayangkan di Trans 7 tiap malam, hari ini dikejutkan oleh pengumuman pembawa acaranya, Deddy Corbuzier, yang memutuskan untuk “menghentikan” acara tersebut pada Kamis ini, 16 Januari 2013. Share dan rating menjadi alasan mengapa acara ini harus dihentikan, seperti yang diungkap Deddy melalui laman Facebook pribadinya.

“Namun kita semua tahu bahwa di saat ini yang dinikmati masyarakat jauh dari hal-hal inspiratif.. Sehingga pasti acara seperti ini akan kehilangan share dan rating, karena share berada di tangan masyarakat majemuk..Kami tidak menyalahkan siapapun.. Inilah dunia TV dan Masyarakat. Dan kami pun saat ini menyerah…. Bukan untuk binasa namun utk berpikir dan berkarya lagi..Kami tidak bisa mengikuti arus dan kami berpegang pada hati… Maaf bila saya mengejutkan jutaan pemirsa dengan mengkahiri acara Hitam Putih,” demikian pernyataan Deddy.

Sebetulnya, imbuh Deddy, Trans 7 masih memberi kesempatan Hitam Putih untuk tetap tayang pada hari Sabtu dan Minggu. “Namun bagi saya lebih baik kami berhenti sejenak untuk berpikir daripada melawan arus dan hanyut akhirnya. Belakangan ini ribuan pesan meminta kami untuk mengembalikan Hitam Putih pada jalurnya tanpa mengetahui kendala yg ada pada kami..Kami pun ingin memberi yang terbaik.. Dan kami sadar apabila itu tidak bisa kami lakukan, maka kami memilih untuk tak ikut pada arus…”

Sontak, para penggemar Hitam Putih pun menuliskan komentarnya di Facebook. Leony Chrystie Clay, misalnya. Perempuan ini menulis begini, “SUMPAH YE daripada acara sampah kaya YKS diterusin dan bikin dampak buruk untuk masyarakatnya,,mendingan hitam putih yg ditampilin!!!!”

Buggaty Chah CherduOne, menulis seperti ini, “hitam putih tlng lanjut lg dong,,,ini acara sngt inspiratif bgt, saya tdk pernah nonton tv kcuali acara hitam putih….buat masyarakat indonesia tlng kalian smua harus’y bs memilah acara yg baik n mendidik dan hanya 1 yaitu HITAM PUTIH.”

Cika Ucika Pepeyee menulis ini, “Kok. Gtu ya,, aku suka htm pth,,,tp. Eneq. Smnjak ada farhat.”

Ya, ya, beberapa episode menjelang penutupan Hitam Putih (HP), pengacara Farhat Abas memang diberi ruang di salah satu segmen HP berjudul “Celotehan Farhat Abas”. Entahlah, kemunculan Farhat di segmen ini diniatkan untuk mendongkrak rating HP atau justru sebagai pertanda jika HP memang hendak digusur.

Masih banyak komentar penggemar HP yang kebanyakan menyayangkan “hilangnya” program HP dari layar kaca Trans 7.

Jika menyimak dari beberapa komentator yang menyayangkan kepergian HP, ada beberapa di antaranya yang menuduh acara-acara semacam YKS, Campur Campur, dan Pesbukers sebagai penyebab hilangnya “kecerdasan” masyarakat dalam menyerap tayangan di televisi. Alhasil, acara yang membawa pesan dan “berisi” macam HP pun harus tersingkir, lantaran penonton dihujani oleh acara variety show itu secara masif. Itu pula yang disadari oleh Dedy sebagai pembawa acara yang mengaku tidak akan terbawa oleh arus tontonan yang dipenuhi haha hihi dan kementelan.

HP sendiri merupakan program talkshow dengan format mind reading yang menghadirkan bintang tamu yang inspiratif dan populer, dibawakan oleh Deddy Corbuzier dengan menyelipkan aksi-aksi khasnya. Bintang tamu akan diberikan pertanyaan seputar masalah pribadi, prestasi, bahkan harapan. Acara dikemas dengan kejahilan, kemahiran, dan ketajaman host dalam mengatur permainan pikiran yang akan mengundang gelak tawa.

Lantas, seperti apa sebetulnya peta tontonan di televisi yang bertarung pada jam prime time, yakni sekira pukul 18.30 hingga 22.00 WIB? Mari kita simak apa saja yang ditayangkan pada “jam mahal” tersebut.

Indosiar masih mengandalkan sinetron dengan tema-tema rumah tangga berjudul Antara Isteri dan Wanita Lain. Trans TV asyik dengan tayangan YKS (Yuk Keep Smile). Tayangan ini oleh beberapa pemerhati televisi dianggap sebagai tontonan garing dan tidak mendidik.

MNC TV tak mau beranjak dari acara sinetron yang digeber sejak pukul 19.00 hingga 22.30 WIB dengan judul Putri Duyung, Tendangan Si Madun Returns, dan Raden Kian Santang.

ANTV, kini stasiun TV itu berhadap-hadapan langsung dengan Trans 7 lewat tayangan yang penuh haha hihi. Sejak pukul 16.55, ANTV telah menayangkan Pesbukers hingga pukul 19.25, dan diteruskan acara Campur Campur, dan Twitteran yang berakhir pada pukul 21.55 WIB.

SCTV dan RCTI masih bertempur dengan tayangan sinetron keluarga. RCTI sejak pukul 17.00 sudah menggelar sinetron Anak-anak Manusia hingga pukul 19.00 WIB, diteruskan dengan sinetron Khanza 2, dan ditutup sinetron Tukang Bubur Naik Haji pada pukul 23.00 WIB.

Sementara itu, SCTV nampaknya masih mengandalkan sinetron Emak Ijah Pengen ke Mekah yang ditayangkan pada pukul 21.00-22.30 WIB.

Stasiun televisi lain, seperti TVRI, Global TV, TV One, dan Metro TV boleh dibilang masih menyajikan tontonan yang “berisi”. Artinya, tontonan yang mereka gelar masih menarik, aktual, bermanfaat, dan inspiratif.

Lantas, apa menariknya HP sehingga disukai oleh penonton yang lebih menyukai “isi” ketimbang “kulit”? Berdasarkan konten isinya, HP mengarahkan perbincangan pada masalah pribadi yang dianggap mampu memotivasi serta inspiratif. Talent ataupun bintang tamu yang diundang tentunya akan memaparkan pengalamannya dalam meraih kesuksesan hingga dikenal oleh banyak orang. Kisah yang dipaparkan tak jarang membuat bintang tamu menangis.

Pertanyaan lugas pun terus disodorkan kepada bintang tamu. Konten isi perbincangan inilah yang dijual dengan kemasan santai dan disajikan dengan atraksi, bahkan alunan musik. Masalah pribadi dari bintang tamu dianggap lumrah untuk diperbincangkan ke publik. Para fans yang mungkin sedang menonton pun akan merasa sangat tertarik dengan setiap ucapan dari bintang tamu. Komunitas-komunitas yang ada di Indonesia pun terkadang hadir sebagai bintang tamu sembari memamerkan karya mereka. Selebriti yang berprestasi pun dihadirkan dan diharapkan mampu memberikan inspirasi.

Gaya hidup dan masalah perceraian diungkapkan lewat program ini. Salah satu episode HP pun pernah mendapat teguran tertulis oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena pertanyaan yang ditujukan bersifat tidak pantas dan di luar konteks kesiapan usia. Hal ini dianggap menjual, tetapi justru dapat menyakiti pihak tertentu. Tepatnya episode 8 April 2012 pukul 18.28 WIB, HP menayangkan adegan Deddy Corbuzier yang menanyakan sebuah pertanyaan kepada seorang anak di luar kemampuan si anak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Share” dan rating

Nah, marilah kita simak, seperti apa pertarungan acara-acara tersebut dalam memperebutkan share dan rating pada akhir Mei 2013.

Jika menyimak angka rating yang dilansir Nielsen yang ditulis http://allaboutduniatv.blogspot.com, yang bertempur dahsyat memang acara Campur Campur (CC) dan YKS. Rating CC yang tayang di ANTV pada Rabu (16/10/2013) menempati peringkat ke-29 dengan TVR 1,9 dan share 7,5 persen. Pada keesokan malamnya, Kamis (17/10/2013), rating CC naik signifikan, menempati peringkat ke-13 dengan TVR 2,5 dan share 9,9 persen di segmen ALL. CC menjadi acara unggulan dengan rating tertinggi kedua setelah Pesbukers yang duduk di peringkat ke-12 dengan TVR 2,5 dan share 12,9 persen.

Namun, CC masih tertinggal dengan YKS yang memang sudah memiliki penonton setia. Pada Kamis (17/10/2013), YKS menempati peringkat ke-3 dengan TVR 4,4 dan share 20,2 persen. Sebelum ada YKS, Trans TV terlihat sering mengubah jadwal program primetime-nya. Kesuksesan YKS juga menggusur Bioskop Trans TV  (BTT) yang kini harus tayang larut malam. Hal ini juga menjadi kritikan para pencinta setia BTT.

Istilah rating dan share kerap diterjemahkan sebagai hidup-mati sebuah program TV. Sebuah acara akan awet, atau hanya seumur jagung, tergantung rating dan share yang diraih. Ukuran seperti apakah yang digunakan AGB Nielsen Media Research (NMR) dalam melakukan penelitiannya? Metode seperti apakah yang dilakukan? Khusus untuk TV, sebutannya adalah Television Audience Measurement (TAM) yang dilakukan Nielsen di Indonesia dan 26 negara lainnya. Survei itu dirancang bagi pengiklan, agensi iklan, ataupun pengelola TV untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap karakter penonton TV dan acuan tontonan TV di kota-kota besar Indonesia.

Sejak 1991, Nielsen Indonesia telah menyediakan laporan rating mingguan bagi stasiun TV dan pengiklan mengunakan Layanan Rating Harian, penonton sampel mencatat acara yang ditonton serta di kanal mana, di dalam buku harian yang disediakan. Hasilnya dikirimkan pada NMR yang kemudian mentransfernya ke komputer.

Tahun 1997, NMR beralih menggunakan Peoplemeter System untuk mengembangkan pengukuran yang lebih akurat menit per menit. Metode Peoplemeter untuk memperoleh gambaran lebih akurat mencakup lima kota besar (Jabodetabek, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung). Pada 2002, daftar kota ditambahkan dengan Makassar. Pada 2003, daftar ditambah Yogyakarta (termasuk Bantul dan Sleman) serta Palembang, 2004 (Denpasar), dan 2006 (Banjarmasin). Survei Nielsen mencakup populasi 49,5 juta penonton TV.

Sejak Maret 2007, Nielsen memberikan layanan laporan rating harian. Informasi detail sebuah program acara bisa langsung diketahui sehari setelah acaranya tayang. Rating harian juga mencakup 10 kota besar Indonesia.

Angka rating dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya saja durasi suatu program, program tandingan, kualitas gambar yang diterima di rumah, penonton yang ada (available audience), jadwal tayang, waktu-waktu insidental, juga pola kebiasaan penonton di daerah-daerah tertentu. Rating program tidak mencerminkan kualitas program. Rating adalah persentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini adalah kuantitas, bukan kualitas suatu acara.

Rating = Jumlah penonton program A dibagi populasi TV x 100 persen.

Dengan perhitungan rating yang menit per menit, panjangnya program memengaruhi rating dari satu program. Misalnya, program yang tadinya berdurasi 30 menit memiliki rating 10. Ketika diperpanjang menjadi 60 menit, ratingnya turun menjadi 8 persen karena angka pembagi yang semakin besar.

Lantas, apakah share? Apa bedanya dengan rating? Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu saluran TV tertentu terhadap total pemirsa di semua saluran.

Share = program rating : total rating x 100 persen.

Ada pula istilah Channel Share, yakni persentase pemirsa TV di satu periode tertentu pada saluran TV.

Channel Share = Channel Share : total pemirsa x 100 persen.

Pada Channel Share, yang dibandingkan bukan lagi acaranya, melainkan stasiun TV-nya. Singkat kata, beda rating dan share adalah angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedangkan share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada tiga stasiun TV dengan populasi 10.000 orang dan TV1 memiliki angka penonton 2.000 orang, TV2 dengan 1.000 orang, dan TV3 dengan 1.000 orang, maka rating TV1 20 persen dan share-nya 50 persen, TV2 punya rating 10 persen dan share 25 persen, sementara TV3 punya rating 10 persen dan share 25 persen.

Perginya “Hitam Putih”

Hitam Putih hanyalah salah satu program televisi yang telah menjadi “almarhum”, mengikuti jejak program-program lainnya yang serupa ataupun berbeda. Untuk urusan hidup mati sebuah program, memang banyak hal yang menyertainya, termasuk jika acara tersebut dipandang tidak patut. Lambat laun, acara itu pun akan mati dengan sendirinya alias ditinggal penontonnya. Namun, algojo paling mematikan yang digunakan oleh televisi selama ini memang lembaga survei yang mengeluarkan angka-angka sharing dan rating.

Khusus mengenai Hitam Putih, selain, barangkali, karena urusan rating dan sharing, konon Deddy Corbuzier sebagai pembawa acara memang memiliki rencana melanjutkan pendidikan S-3. Meminjam bahasa para penggemar Hitam Putih, bukan kematian acara Hitam Putih yang menjadi soal. Yang menjadi perkara adalah seperginya Hitam Putih, adakah acara televisi yang bukan hanya menyajikan “kulit”, melainkan juga “isi” yang terdiri dari: pesan yang baik, aktual, inspiratif, dan juga bermanfaat?

Jika tak muncul acara yang bernas, maka boleh jadi acara-acara yang digelar di televisi dan mendapatkan perhatian besar dari penonton melalui sharing dan rating yang tinggi adalah potret dari bangsa ini yang sudah sumpek oleh keadaan negaranya. Jadi, mereka pun memilih untuk bergoyang dan ber-haha hihi…

Ok apapun alasannya, kita menantikan acara yang lebih berkualitas. (erny)